Daurah Tahfidzul Qur’an SDA Slawi Cetak Para Penghafal Alquran.

Allah SWT telah menjamin kemudahan bagi orang yang mempelajari dan menghafal Alquran. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya, telah Kami mudahkan Alquran itu untuk menghafalnya maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS al-Qomar [54]: 17).

Inilah yang dibuktikan SD Aisyiyah Slawi (SDA) Kab. Tegal. Melalui program Daurah Menghafal Alquran yang diselenggarakan berhasil mewujudkan para muhaffidz yang mampu menghafal Alquran hingga 2 Surat per hari. Dalam empat kali program setiap pekan nya, setidaknya sudah dihasilkan 21 orang santri hafal Jus 30.

Kepala SD Aisyiyah Slawi mengatakan, menghafal Alquran hingga satu juz dalam sehari bukan sekadar khayalan belaka. Hal tersebut benar-benar dibuktikan beberapa orang santrinya yang mengikuti daurah.

“Alquran itu keajaiban. Jadi, tak mus tahil siapa yang berinteraksi de ngan Alquran juga dialiri keajaibankeajaiban dari Alquran. Salah satu bukti keajaiban yang tampak di mata kita adalah kemampuan santri yang bisa menghafal Alquran empat juz sehari. Mereka bukan orang jenius yang IQ-nya sangat tinggi. Mereka orang biasa yang mendapat keajaiban Alquran,” papar Ustadz Riza Awal Novanto kepada SDA, Sabtu (4/01).

Daurah Tahfidzul Qur’an merupakan program eksklusif dari SDA Slawi ini. Santri yang ingin ikut terlebih dahulu menjalani serangkaian pembukaan. Setelah itu, mereka dikirim ke Masjid Islamic Center Kebandingan. Selama 1 hari 1 Malam, mereka digembleng untuk menghafal Alquran dengan target minimal 2 surat sehari.

“Selama daurah berlangsung, mereka diberikan motivasi setiap hari. Mereka hanya menghafal Alquran saja. Soal urusan lain-lain, seperti mencuci dan keperluan pribadi, mereka dilayani seperti raja. Pokoknya, hidup mereka selama daurah hanya full untuk Alquran,” jelas ustad M. Wahyudi.

Menurut sang ustadz, motivasi bagi penghafal Alquran harus terus diberi kan. Menurutnya, yang paling me nyen tuh bagi peserta daurah adalah motivasi bahwa mereka akan dikekalkan bersama Alquran. “Kita kata kan bahwa merekalah yang menjadi penjaga Alquran. Ini yang paling berkesan di hati santri-santri,” katanya.

Pelaksanaan daurah baru kali pertama bagi santri putra dan santri putri. Dalam daurah kali ini hanya diikuti kelas empat saja dengan jumlah peserta 19 orang.

Ustad M. Wahyudi mengaku, tak ada metode khusus yang diterapkan peserta daurah. Setiap peserta diperkenalkan dengan berbagai macam metode menghafal Alquran cepat. Setelah itu santri dibebaskan memilih metode yang me reka anggap cocok bagi dirinya. Pembimbing daurah ikut membantu santri dalam menemukan metode yang paling tepat.

Kelompok Hafalan Ustadzah Yuli ( Henri, Javier, Faiq, Nindi )
Kelompok Hafalan Ustdzah Uswah ( Adita, Ainun, Azka )
Kelompok Hafalan Pak Wibowo ( Hana, Meysa, Rakila )
Kelompok Hafalan Ustad Ardi ( Lody, Frida, Kefi )

Setiap peserta diberikan target-target untuk menghafal. Ada sanksi-sanksi tertentu jika peserta tak mencapai target. “Ada namanya istilah ‘the power of kepepet'”. Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka dipaksa untuk menghafal dan menyetorkan hafalannya sebanyak mungkin,” ujar Ustad M. Wahyudi.

“Dengan sistem ini, beberapa orang santri berhasil memperlihatkan hasil maksimal. Santri kita, Hana Laila Ramadhani, Frida, dan beberapa orang rekan-rekannya yang lain berhasil menghafal Satu surat sehari. Padahal mereka baru kelas empat,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *